Aturan bukan beban tetapi membawa pembebasan
Pada tanggal 18-24 Agustus 2025 telah berlangsung kegiatan Masa Inisiasi Asrama (MIAs) Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Seturan. MIAs dilakukan untuk memperkenalkan kehidupan berasrama bagi mahasiswa baru 2025. Selain itu, setiap rangkaian acara dibuat agar mahasiswa baru 2025 dan mahasiswa 2024 dapat lebih saling mengenal dan lebih akrab satu dengan yang lain begitupun dengan para pembina, mentor dan karyawan asrama.




Rangkaian MIAs ditutup dengan Ibadah Pembukaan Kehidupan Berasrama yang disertai dengan Sakramen Perjamuan Kudus. Ibadah ini dilayani oleh Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF., Ph.D sebagai selebran dan Pdt. Devina Widiningsih, M.Th sebagai konselebran.

Pdt. Devina Widiningsih mengawali khotbahnya dengan kata “aturan.” Sebab bacaan-bacaan yang dibacakan dari Yesaya 58:9b-14 dan Injil Lukas 13:10-17 semua berbicara mengenai aturan hari Sabat dan makna/esensi dari aturan. Dalam khotbahnya, ia menegaskan makna sabat yang sesungguhnya. Sabat bukan sekadar berhenti dari segala rutinitas, tetapi lebih dari itu Sabat berarti berhenti melakukan perbuatan yang jahat! Pdt Devina mengatkan bahwa, Sabat memanggil kita untuk mengusahakan keadilan di tempat kita berada.
“Esensi sabat itu adalah jika kita bukan pelaku ketidakadilan maka kita harus mampu atau berusaha menghentikan ketidakadilan yang terjadi!” seru Pdt. Devina. Inilah yang diserukan oleh Nabi Yesaya, bahwa ibadat tidak berhenti pada ritus, tetapi menjelma dalam tindakan nyata!
Hal senada diungkapkan dalam Bacaan Injil mengenai kisah penyembuhan pada hari Sabat. Menarik kalau melihat Yesus tidak memakai kata “sembuh” tetapi “bebas” pada ayat 12b “Hai ibu, engkau telah bebas dari penyakitmu.” Yesus tidak hanya memberi kesembuhan fisik, tetapi kesembuhan dari penyakit struktural: ketidakadilan dan ritual keagamaan yang membebani. Ia bukan melanggar hukum Sabat tetapi mengembalikan esensi Sabat itu sendiri.
Hal ini menarik bagi mahasiswa teologi yang tinggal di asrama dengan aturan. “Aturan itu bukan sesuatu yang membebani, tetapi aturan itu membawa pembebasan” ujar Pdt. Devina. Ini adalah panggilan bagi warga asrama untuk membangun komunitas yang membebaskan, menyembuhkan, dan menghidupkan, terlebih dalam kehidupan asrama yang akan dijalani bersama. “Bawalah semangat ibadah ini ke ruang-ruang kelas, ke meja makan bersama, ke kamar yang hangat, dan ke dalam setiap relasi dalam hidup bersama,” seru Pdt. Devina dalam pesan pengutusan.

Seusai ibadah, sebagai simbol kehadiran mahasiswa baru, maka foto mahasiswa angkatan 2025 disandingkan dengan foto mahasiswa angkatan 2024 Teologi Duta Wacana yang dipajang di lobi asrama. Hal ini menjadi penanda sah bahwa angkatan tersebut telah menjadi penghuni asrama. Prosesi pemasangan foto yang dilakukan oleh Pdt. Stefanus dan Pdt. Devina ini menandai dimulainya kehidupan berasrama secara utuh. Dengan demikian, dinamika antara perkuliahan dan kehidupan bersama di asrama diharapkan dapat saling melengkapi serta menjadi ruang pembentukan yang menguatkan satu sama lain.



